Beyond Market Perception, The Linkage between Expectation and Currency Crisis

By: Faiz Ibadillah O.A

Banyak diskursus di internet yang menyatakan bahwasanya ketika seorang pemimpin negara yang bertugas untuk memilih keputusan malah bersikap populis dan mengesampingkan pengambilan keputusan yang prudent, maka akan mempercepat adanya peristiwa lost the mandate of heaven. Sebuah proverbs dari China yang menyatakan bahwa Pemerintah sudah tidak sanggup lagi untuk menjalankan mandat pemerintahan nya dikarenakan oleh inkompetensi dan ketidakbecusan dalam memerintah, sehingga diperlukan act of rebellion untuk me-retribusi kegagalan tersebut.

Dalam konteks ini, stabilitas moneter Indonesia menjadi pihak yang dijadikan “tumbal” oleh ketidakpastian regulasi dari Pemerintah. Peristiwa ini ditandai oleh meningkatnya Credit Default Swap (CDS) ke titik kritis 90,91 di 30 April 2026 bahkan sempat mengalami peningkatan hingga 99,84 point pada 2 April 2026. Hal ini menandakan adanya kenaikan concern dari para investor terkait dengan kondisi ekonomi Indonesia. Karena nature dari CDS sendiri adalah sebagai indikator atas potensi risiko kredit (credit event), sehingga jika terjadi kenaikan basis point CDS dapat menandakan bahwasanya terjadi kenaikan kekhawatiran investor dalam memegang aset sovereign Indonesia. Aset sovereign ini bisa berbentuk Surat Utang Negara (SUN), Surat Berharga Negara (SBN), ataupun jenis obligasi negara lain nya. 

Menurut Ramdhani Pratama dari IDN Financials, kenaikan CDS ini murni disebabkan oleh naiknya persepsi investor terhadap risiko kredit di Indonesia dan bukan dikarenakan oleh turunnya kualitas kredit. Kenaikan ini mungkin terjadi karena credit grade Indonesia masih dalam kondisi investment grade sehingga kenaikan CDS hanya disebabkan oleh perubahan persepsi risiko. Namun tentu saja hal ini tidak bisa disepelekan begitu saja. Karena jika terjadi kenaikan CDS, investor akan bersikap lebih hati hati terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Alhasil Rupiah akan ikut terdampak oleh meningkatnya capital outflow yang disebabkan oleh kenaikan risk perception oleh investor.

Hal ini terlihat dari data neraca Capital and Financial Account di Q1 dan Q2 yang hanya memperoleh net inflow sebesar 0,2 miliar USD. Net outflow tercatat pada Q1 sebesar 1,7 miliar USD disebabkan oleh peninjauan kembali credit rating dari lembaga rating; Moody’sS&P, dan Fitch yang menurunkan outlook rating Indonesia menjadi negative outlook. Tak luput juga, pembekuan rebalancing saham IHSG yang dilakukan oleh MSCI ikut menyebabkan IHSG rontok sebesar 7,35%. Disaat yang bersamaan, Rupiah (IDR to USD) mengalami depresiasi sebesar 19,32% (per April 2026) dengan tahun basis 2021. Net Inflowpada Q2 2026 juga disebabkan oleh naiknya imbal hasil di SBN dan SRBI setelah terjadi kenaikan tajam short term yield maupun long term yield di Q1 2026. CDS pada Q1 2026 juga mengalami lonjakan sebesar 51,85% QoQ, menandakan adanya korelasi antara net outflow dan juga persepsi pasar terhadap risiko kredit di Indonesia. 

Ada salah satu quotes yang dapat menggambarkan fluktuasi pasar keuangan Indonesia akhir akhir ini, 

Investing is not a discipline based on absolutes or precise mathematics. There simply aren’t enough data points available to work out the exact odd – Mohnish Pabrai

Mohnish merupakan seorang investor kawakan yang berdarah India-Amerika. Dia berpendapat bahwasanya berinvestasi tidak hanya mengandalkan variabel matematika untuk menghitung secara tepat. Namun kita juga harus melihat variabel lain diluar matematika karena dengan hanya menghitung secara matematis kita tidak akan mendapatkan perhitungan yang precise karena uang sendiri merupakan komoditas untuk berspekulasi. Sehingga investor juga harus “memperhitungkan” spekulasi yang ada di pasar untuk membantu analisis investasi.

Spekulasi inilah yang akan saya sebut sebagai ekspektasi. Bentuk ekspektasi di pasar dapat dicerminkan oleh risk premium yang menggambarkan risiko pasar keuangan di masa depan. Semakin tinggi risk premium maka semakin tinggi juga persepsi risiko credit event di pasar keuangan. Ketika risk premium naik, maka CDS juga akan mengalami kenaikan. CDS yang naik kemudian akan menimbulkan systemic linkages yang berdampak pada kenaikan exchange rate suatu negara (Su, M., Ren, Y., Niu, Y. et al. 2025).

Seperti yang dikatakan oleh Chatib Basri dalam op-ed nya di koran Kompas, 3 Mei 2026; 

Ekspektasi depresiasi, sekali muncul, bisa memicu capital outflow yang justru mewujudkan depresiasi itu sendiri—sebuah self-fulfilling currency crisis –Chatib Basri

Chatib Basri dalam op-ed terbarunya juga mengingatkan potensi Peso problem, yaitu tentang behaviour market yang selalu mengingat pengalaman traumatis krisis. Seperti pengalaman traumatis Indonesia dengan krisis ekonomi 1998. Peso problem hingga saat ini masih menyelimuti khalayak kebijakan ekonomi. Sehingga setiap Indonesia mengalami depresiasi mata uang, masyarakat umum pun ikut mengalami flashback peristiwa moneter 1998 ketika IDR to USD naik dari 2.000 menjadi 17.000 per 1$ dalam waktu kurang dari satu bulan. 

Jika kita ambil dari Pak Dede––panggilan akrab beliau, flashback inilah yang kemudian akan menimbulkan self fulfilling currency crisis. Karena secara tidak langsung, masyarakat masih mempunyai persepsi bahwa rupiah adalah mata uang yang lemah. Maka timbullah efek downward spiral dari market perception hingga currency crisis yang diakibatkan oleh ekspektasi secara tidak langsung.  

Pendapat Pak Chatib menggambarkan keyakinan saya bahwasanya lembaga moneter dan fiskal sudah seharusnya menjaga ekspektasi pasar dengan melakukan kebijakan countercyclical maupun pro-growth. Ketika ekspektasi dapat dijaga, niscaya stabilitas pasar keuangan dapat terjaga lebih stabil sehingga instrumen kebijakan moneter dan fiskal bisa ditransmisikan secara lebih baik ke perekonomian.

Untuk mendapatkan end product tersebut, lembaga fiskal dan moneter harus berjalan berdampingan, i.e baur membaur, agar mendapatkan hasil yang maksimal. Oleh karena itu keberadaan bauran kebijakan yang prudent dan kredibel harus menjadi dasar untuk menanggulangi krisis kepercayaan ini. Tanpa nya, gelombang ekspektasi akan terus mengalahkan upaya stabilitas pasar yang dilakukan oleh lembaga moneter maupun fiskal. Semuanya akan kembali lagi ke paragraf awal jika bauran kebijakan tidak selalu dilaksanakan, stabilitas moneter Indonesia akan terus menjadi pihak yang dijadikan “tumbal” oleh ketidakpastian regulasi dari Pemerintah.

Akhir kata, kredibilitas bukanlah suatu komoditas yang dapat dibeli dan diberikan secara cuma cuma lewat aksi populis yang dilakukan pemerintah akhir akhir ini. Namun, kredibilitas merupakan kepercayaan yang didapatkan lewat kerja keras lembaga moneter dan fiskal yang transparan, akuntabel, serta konsisten dalam tindakan nya. Credibility is earned, not gifted.

References

Bank Indonesia. (2026, April 24). Laporan Kebijakan Moneter Triwulan 1 2026. Bank Indonesia. Retrieved May 4, 2026, from https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Documents/Laporan-Kebijakan-Moneter-Triwulan-I-2026.pdf

Basri, M. C. (2026). Rupiah, Risiko, dan Ingatan 1998. kompas.id. Retrieved 05 4, 2026, from https://www.kompas.id/artikel/rupiah-resiko-dan-ingatan-1998?open_from=Opini_Page

BKF KEMENKEU. (2013). Credit Default Swap Indonesia: Faktor-faktor yang Mempengaruhi dan Perbandingan dengan Peers. https://fiskal.kemenkeu.go.id/files/berita-kajian/file/Kajian%20CDS%20indonesia.pdf

Data Historis Obligasi CDS Indonesia 5 Tahun USD. (n.d.). Investing.com. Retrieved May 4, 2026, from https://id.investing.com/rates-bonds/indonesia-cds-5-years-usd-historical-data

Husna, F. (2026). IHSG Anjlok 7,35% Rabu karena Pembekuan MSCI. TRADING ECONOMICS. Retrieved May 1 2026, from https://id.tradingeconomics.com/indonesia/stock-market/news/520908

Pratama, R., & Hannany, Z. (2026). CDS Indonesia merayap naik tertinggi di Asia, pasar beri pesan apa? https://www.idnfinancials.com/id/news/61173/cds-indonesia-merayap-naik-tertinggi-di-asia-pasar-beri-pesan-apa

Quotes on Probability • Novel Investor. (n.d.). Novel Investor. Retrieved May 4, 2026, from https://novelinvestor.com/quote-category/probability/

USD/IDR – Kurs Dollar ke Rupiah Hari Ini. (n.d.). Investing.com. Retrieved May 4, 2026, from https://id.investing.com/currencies/usd-idr

Bagikan di :